Rabu, 27 Januari 2010
kawah putih
Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhem Junghuhn (1809-1864)
mengadakan perjalanan kedaerah Bandung selatan. Ketika sampai dikawasan tersebut Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatang pun yang melintasi daerah itu. Ia kemudian menanyakan masalah ini kepada masyarakat setempat dan menurut masyarakat kawasan gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan jin. KArenanya bila ada burung yang lancang berani terbang diatas kawasan tersebut akan jatuh dan mati. Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara digunung itu untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi dikawasan tersebut. Namun sebelum sampai dipuncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah dihadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehiajuan. DAri dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Dan terjawablah sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.
Dari sinilah awal mula berdirinya pabrik belerang kawah putih dengan sebutan dizaman Belanda Zwavel Ontgining Kawah Putih. Dizaman Jepang usaha pabrik ini dilanjutkan dngan menggunakan sebutan kawah putih kenzonka Yokoya Ciwidey, dan langsung berada dibawah pengawasan militer.
Cerita dan misteri tentang kawah putih terus berkembang dari satu generai masyrakat kegenerasi masyarakat berikutnya. Hingga kini mereka masih percaya bahwa kawah putih merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur . Bahkan menurut kuncen Abah KAran yang sekarang berumur 105 tahun dan bertempat tinggal dikampung Pasir Hoe , Desa Sugih Mukti, dikawah putih terdapat makam para leluhur diantaranya: Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak gunung Patuha, Puncak Kapuk dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Ditempat ini masyarakat sesekali melihat (secara gaib) sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai penjelmaan dari para leluhur.
Alam pemandangan disekitar kawah putih cukup indah dengan air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Disebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.
Franz Wilhem Junghuhn kini sudah lama tiada, namun penemuannya yang dikenal dengan nama kawah putih masih tetap anggun mempesona sampai saat ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar